Di zaman yang semakin modern ini, dimana akses pengetahuan mengenai perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan semakin mudah didapat, serta tingkat pendidikan masyarakat yang semakin meningkat, membuat masyarakat semakin kritis di dalam menyikapi pemberian pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Nah, sebagai salah satu tenaga kesehatan, profesi gizi tentunya memiliki peran dan tanggung jawab yang cukup besar guna melayani dan memberikan yang terbaik untuk mewujudkan masyarakat yang sehat, sebagaimana visi Indonesia sehat 2010.
Sebagaimana kita ketahui bahwa saat ini sudah terjadi pergeseran pola / trend penyakit, dari penyakit infeksi ke penyakit degeneratif. Peningkatan pendapatan perkapita dan perubahan gaya hidup-lah yang diduga menyebabkan semakin meningkatkan trend penyakit ini. Selain itu, terdapat pula beban ganda masalah gizi, yakni maraknya kasus gizi lebih (obesitas) di tengah-tengah masih banyak ditemuinya kasus gizi buruk. Sungguh ironis memang…Lalu apa yang dapat kita lakukan sebagai seorang yang professional di bidang gizi, untuk membantu mengatasi masalah-masalah tersebut?
Sebagai salah satu contoh, saat ini program studi gizi kesehatan Fakultas Kedokteran UGM tengah melaksanakan program pendidikan profesi gizi (dietetic internship) bagi lulusan S-1 Gizi Kesehatan (lulusan S-1 dengan gelar sarjana S.Gz alias sarjana gizi). Pendidikan profesi gizi ini mirip dengan ko-ass –nya pendidikan dokter, pendidikan ners-nya sarjana keperawatan, dan pendidikan apotekernya sarjana farmasi. Tujuan umum dari pendidikan profesi gizi ini adalah untuk menghasilkan tenaga profesi gizi yang beragama dan mampu mengamalkan kemampuan profesi secara baik dan manusiawi, berdedikasi tinggi terhadap profesi dan klien, dan tanggap terhadap perkembangan ilmu dan teknologi penanganan gizi. Tujuan bidang materi dan kompetensi serta proses pembelajaran untuk mencapai tujuan tersebut terbagi dalam 3 kelompok kompetensi bidang pembelajaran yaitu Bidang Gizi Klinik, Bidang Manajemen Sistem Penyelenggaraan Makanan dan Bidang Gizi Masyarakat.
Sebagai gambaran, mahasiswa profesi gizi tentunya akan memerlukan pengalaman dan ketrampilan yang didapatkan di lahan praktek, yang meliputi rumah sakit untuk melakukan asuhan gizi klinik bagi pasien/klien dan mengelola kegiatan penyelenggaran makan rumah sakit. Sedangkan untuk mencapai kompetensi di bidang gizi masyarakat dilakukan di puskesmas, sekolah, panti dan pusat-pusat kebugaran, klub olahraga, serta katering dan rumah makan yang digunakan untuk mencapai kompetensi bidang menajemen sistem penyelenggaraan makanan.
Dengan demikian jelas bahwa profesi gizi tidak hanya ditemui di rumah sakit. Profesi gizi tidak hanya menangani orang yang sakit, orang yang sehat pun juga dapat ditangani oleh profesi gizi. Seperti contohnya di pusat kebugaran (fitness centre). Dalam benak kita pasti akan terbayang, bahwa orang-orang yang datang ke pusat kebugaran adalah orang-orang yang sehat. Sehat dalam arti sangat berbeda dengan pasien di rumah sakit yang tergeletak lemas tak berdaya,ditambah dengan masalah bahwa sebagian besar dari mereka memiliki nafsu makan yang menurun drastis.
Nah, inilah tantangannya,,,,karena ternyata di pusat kebugaran tidak hanya ditemui orang yang benar-benar sehat, namun juga akan ditemui banyak masalah gizi, seperti yang terjadi di KARTIKA DEWI fitness centre, salah satu pusat kebugaran terkemuka di kota Jokja, yang menjadi salah satu lahan praktek pendidikan profesi gizi Fakultas Kedokteran UGM. Masalah gizi sendiri diartikan sebagai suatu masalah / problem yang berhubungan dengan gizi, yang bisa dilihat dari sudut pandang pola makan / riwayat kebiasaan makan, hasil pemeriksaan fisik dan klinik, serta perilaku atau lingkungan di sekitar orang tersebut.
Menyadari akan adanya tantangan tersebut, sebagai pusat kebugaran terkemuka, KARTIKA DEWI fitness centre tidak hanya menyediakan fasilitas / peralatan kebugaran, namun juga menyediakan layanan kesehatan berupa konsultasi dokter dan ahli gizi secara cuma-cuma bagi para anggotanya. Namun fasilitas ekstra ini tidak didapatkan setiap hari, karena hanya didapati pada waktu-waktu tertentu. Oleh karena itu, menjalin kerjasama dengan program studi Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM sebagai salah satu lahan praktek pendidikan profesi gizi, adalah langkah tepat yang ternyata saling menguntungkan. KARTIKA DEWI dapat memberikan pelayanan dan fasilitas yang semakin baik bagi para anggotanya, sedangkan mahasiswa profesi gizi dapat semakin meningkatkan pengalaman dan ketrampilan sebagai seorang ahli gizi professional.
Anda ingin mengetahui bagaimana suasana dan kiprah mahasiswa profesi gizi FK UGM selama melaksanakan praktek di KARTIKA DEWI fitness centre?
Lihat foto :
Sebagian besar masalah gizi yang ditemui masalah kelebihan berat badan. Sebagian anggota / member sengaja datang ke KARTIKA DEWI fitness centre untuk membantu menurunkan berat badan. Kelebihan berat badan inilah salah satu pemicu timbulnya penyakit degeneratif, seperti yang telah disebutkan pada awal tulisan ini. Program penurunan berat badan yang baik, tentu tidak hanya cukup dengan olahraga, namun juga dengan pengaturan makan yang sesuai. Inilah yang banyak tidak disadari oleh sebagian besar masyarakat, demikian pula dengan para member di KARTIKA DEWI fitness centre. Banyak yang ingin langsing atau kurus kemudian menghindari makan nasi, tidak pernah sarapan dan makan malam, tidak makan daging, hanya makan buah dan sayur sepanjang hari, bahkan ada yang mengikuti tips atau diet populer (yang menurut sebagian member terasa cukup menyiksa), atau dengan mengkonsumsi berbagai jenis suplemen buatan luar negeri / multi level marketing. Cara-cara seperti ini sebenarnya bukanlah cara yang tepat, dan peran kita sebagai ahli gizi professional sangat diperlukan dalam hal ini.
Selain itu, tidak sedikit pula member yang ingin menaikkan berat badan dengan membentuk massa otot, atau hanya sekedar bertanya mengenai bagaimana cara mempertahankan berat badan stabil, bertanya mengenai keamanan suplemen atau susu yang mereka konsumsi, atau hanya sekedar bertanya mengenai isu-isu diet populer yang banyak berkembang akhir-akhir ini. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya masyarakat mulai memperhatikan kesehatan mereka, terutama dari segi kebutuhan pokok mereka, yaitu makanan dan minuman yang mereka konsumsi sehari-hari.
Berarti ini merupakan suatu peluang untuk makin memajukan profesi gizi. Di mana masyarakat semakin peduli dan semakin membutuhkan informasi yang mereka butuhkan seputar kesehatan, khususnya hal-hal yang berkaitan dengan gizi. Ini baru merupakan salah satu contoh, karena di tempat lain, di lahan praktek profesi gizi lainnya (baik di rumah sakit, catering atau Puskesmas), keberadaan profesi gizi tidaklah dapat lagi dipandang sebelah mata. Mereka yang sebelumnya tidak pernah mengenal profesi gizi, akan mengetahui profesi kita yang sesungguhnya dengan disertai kemampuan dan kompetensi yang dimiliki.
Tapi itu semua tergantung diri kita sendiri. Yang dapat memajukan profesi gizi adalah orang-orang yang memiliki profesi gizi itu sendiri. Sekarang pendidikan ilmu gizi sudah setara dengan profesi di bidang kesehatan lainnya. Jadi kita tidak perlu merasa minder atau rendah diri, karena tiap profesi itu memiliki kompetensi sendiri yang tidak dimiliki oleh profesi lainnya. Jadi…sudah saatnya profesi gizi mendunia !!!